Di Dusun Kedung
terdapat dua buah makam yang dianggap keramat oleh masyarakat Dusun Kedung Desa Sukadana, makam tersebut
adalah makam Kyai Bagus Mas Sacawijaya dan makam Kyai Bagus Mas Mertawijaya. Makam Kyai Bagus Mas Sacawijaya berorientasi utara-selatan,
berukuran sekitar 1,5 x 1 meter dengan kondisi berundak dan bernisan dan sudah
dikeramik. Makam ini sekelilingnya sudah dilantai dan dibenteng setinggi 40 cm.
Di situs ini ditemukan pula sebuah batu Pamangkonan
yang bentuknya mirip dengan batu Pamangkonan yang terdapat di
situs-situs sekitar Sukadana. Makam Kyai Bagus Mas Mertawijaya
berjarak sekitar 100 meter dari Makam Kyai Bagus Mas Sacawijaya dibelakang
perumahan warga.makam berada di bawah pohon beringin dan angsana yang sangat
besar, saking besarnya hingga makam hampir tertutupi. Keadaan makam belum
ditembok berorientasi utara-selatan. Disekitar kedua situs berdekatan ini
dijadikan TPU.
Asal usul kedua tokoh kakak beradik tersebut tidak
diketahui, karena pada awalnya kedua makam tersebut ditemukan oleh seorang
Tukang ahli bangunan yang bernama Bah Karto. Untuk mengetahui asal-usul kedua
makam tersebut, Bah Karto melakukan ritual hingga dapat mengetahui bahwa kedua
makam tersebut adalah makam Kyai Bagus Mas Sacawijaya dan adiknya Kyai Bagus
Mas Mertawijaya.
Meskipun
masyarakat tidak mengetahui asal-usul kedua tokoh tersebut secara pasti, namun
masyarakat meyakini keberadaan kedua makam tersebut memberikan manfaat dan
perlindungan bagi masyarakat dusun Kedungwatu, sehingga sudah selayaknya masyarakat
menghargai kedua tokoh tersebut.
Nama asli Kedungwatu
adalah Kedungbatu, yang berasal dari Bahasa Jawa yaitu kata kedung yang berarti leuwi
dan kata batu. Sehingga kedung batu berarti “leuwi yang
berbatu”. Sebutan nama
daerah yang diawali kata kedung diyakini sebagai daerah yang dipengaruhi tokoh
yang berasal dari Mataram.
Di situs ini sering diadakan acara Mupunjung
tiap bulan Ruwah dan Merlawu pada bulan Maulud oleh warga
sekitar.